JARINGAN KOMPUTER
ALGORITMA ROUTING
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
o Latar
Belakang Masalah
o Pengertian
Algoritma dan Routing
o Bagaimana
cara kerja Algoritma Routing
o Algoritma Routing Sulit atau tidak?
o Bagaimana cara menggunakan Algoritma Routing?
BAB II :
PANDUAN ALGORITMA ROUTING
2.1. Routing
2.2. Static Routing dan Dinamic
Routing
2.2.1 Static Routing
2.2.2 Dynamicc Routing
2.2.2.1 Algoritma Distance Vector
2.2.2.1.1 Routing Information Protocol
2.2.2.1.2 Interior Gateway Routing Protocol (IGRP)
2.2.2.2 Algoritma Link State
2.2.2.3
Algoritma
Link State
BAB III : KARAKTERISTIK ALGORITMA ROUTING
3. Ciri-ciri dan Pembagian Algoritma
Routing
3.1.
Pembagian Algoritma
Routing
3.2.
Metode Algoritma
Routing
3.3.
Backtracking
3.3.1 Definisi
3.3.2 Prinsip Kerja
3.3.3 Analisis Penerapan Algoritma Backtracking
3.3.4 Penggunaan Backtracking
3.3.5 Kegunaan Backtracking
BAB IV : PENUTUP
o Kesimpulan
o Saran
o Pertanyaan
dan Jawaban
BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang Masalah
Algoritma
routing
adalah bagian algoritma dari perangkat lunak network layer yang bertanggung
jawab untuk menentukan jalur mana yang menjadi jalur transmisi paket. Jika
subnet tersebut menggunakan datagram secara internal, keputusan ini harus
selalu dibuat setiap kali paket datang. Tetapi jika subnet tersebut menggunakan
rangkaian virtual secara internal, keputusan routing ini hanya diambil pada
waktu penetapan rangkaian virtual yang baru, sesudah itu paket data tinggal
mengikuti rute yang telah ditetapkan sebelumnya. Setiap algoritma routing
memiliki sifat-sifat seperti kebenaran, kesederhanaan, kekokohan, kestabilan,
kewajaran dan keoptimalitas. Algoritma routing harus dapat menyesuaikan diri
atau bertahan terhadap perubahan-perubahan dalam topologi dan lalu lintas data.
Algoritma
routing bukanlah pelajaran yang terbilang baru
dalam teknologi saat ini. Jangan
kalian anggap remeh dengan pembelajaran yang satu ini. Berbicara mengenai Algoritma
routing, topik ini sempat menjadi pro
dan kontra. Mengapa ? bila diperhatikan cara kerjanya, Algoritma bekerja
seperti logika matematika. Bila anda ingin mengerjakan tugas soal matematika
dibuku tugas, kemudian kalian pasti mencari tugas yang sangat mudah dan
langkah-langkah penyelesainnya dapat dikerjakan dengan secara logis dan sistematis
serta terbatas jumlahnya. Begitulah konsep algoritma routing yang dimana Teknik
penyusunan langkah-langkah penyelesaian masalah dalam kalimat dengan jumlah
kata terbatas, tetapi tersusun secara logis dan sistematis yang mengirimkan
paket serta mengarahkan dan menentukan jalur yang akan dilewati paket dari satu
jaringan ke jaringan yang lain.
Pengertian
Algoritma dan Routing
Algoritma
merupakan suatu pondasi yang harus dikuasai oleh setiap mahasiswa yang ingin
menyelesaikan suatu masalah secara berstruktur, efektif, dan efisiensi,
teristimewa lagi bagi mahasiswa yang ingin menyusun program computer untuk
menyelesaikan suatu persoalan.
Routing adalah inti dari semua
kontrol jaringan, yaitu mekanisme yang digunakan untuk mengirimkan paket serta
mengarahkan dan menentukan jalur yang akan dilewati paket dari satu jaringan ke
jaringan yang lain.
Bagaimana
cara kerja Algoritma Routing?
Algoritma routing digunakan untuk membangun dan
mengatur table routing pada perangkat. Terdapat 2 cara untuk membangun table
routing, yaitu :
·
Static
Routing : routing ini dibangun berdasarkan definisi dari adminstrator.
·
Dynamic
Routing : algoritma ini dapat membuat perangkat router untuk dapat menentukan
jalur routingnya secara otomatis, dengan cara menjelajah jaringan tersebut dan bertukar
informari routing antar router. Terdapat 3 kategori tentang algoritma dinamik, yaitu :
jalur routingnya secara otomatis, dengan cara menjelajah jaringan tersebut dan bertukar
informari routing antar router. Terdapat 3 kategori tentang algoritma dinamik, yaitu :
oDistance
Vector
oLink State
oHybrid
Algoritma
Routing Sulit atau tidak?
Nah, mungkin ini pertanyaan yang
paling luas bila dilihat dari berbagai sudut pandang. Algoritma Routing bisa
bersifat sulitt atau tidak baik tergantung tujuan dari menggunakan Algoritma
Routing. Tujuan yang baik, misalnya digunakan untuk membuat algoritma
dari perangkat lunak network layer yang bertanggung jawab untuk menentukan
jalur mana yang menjadi jalur transmisi paket. Jika subnet tersebut menggunakan
datagram secara internal, keputusan ini harus selalu dibuat setiap kali paket
datang. Tetapi
jika subnet tersebut menggunakan rangkaian virtual secara internal, keputusan
routing ini hanya diambil pada waktu penetapan rangkaian virtual yang baru,
sesudah itu paket data tinggal mengikuti rute yang telah ditetapkan sebelumnya.
Bagaimana
cara menggunakan Algoritma Routing?
Host
mendengar pada alamat broadcast jika ada update routing dari gateway.
· Host akan memeriksa terlebih dahulu routing table
lokal jika menerima update routing .
· Jika rute belum ada, informasi segera dimasukkan ke
routing table .
· Jika rute sudah ada, metric yang terkecil akan diambil
sebagai acuan.
· Rute melalui suatu gateway akan dihapus jika tidak ada
update dari gateway tersebut dalam
waktu tertentu.
waktu tertentu.
· Khusus untuk gateway, RIP akan mengirimkan update
routing pada alamat broadcast di
setiap network yang terhubung.
setiap network yang terhubung.
. Algoritma yang digunakan adalah Algoritma
Link State.
OSPF
harus membentuk hubungan dulu dengan router tetangganya untuk dapat saling
berkomunikasi seputar informasi routing. Untuk membentuk sebuah hubungan dengan
router tetangganya, OSPF mengandalkan Hello protocol.
Namun
uniknya cara kerja Hello protocol pada OSPF berbeda-beda pada setiap jenis
media. Ada beberapa jenis media yang dapat meneruskan informasi OSPF,
masing-masing memiliki karakteristik sendiri,
sehingga OSPF pun bekerja mengikuti karakteristik mereka.
Media
tersebut adalah sebagai berikut:
· Broadcast Multiaccess
Media
jenis ini adalah media yang banyak terdapat dalam jaringan lokal atau LAN
seperti misalnya ethernet, FDDI, dan token ring. Dalam kondisi media seperti
ini, OSPF akan mengirimkan traffic multicast dalam pencarian router-router
neighbour-nya.
· Point-to-Point
Teknologi Point-to-Point
digunakan pada kondisi di mana hanya ada satu router lain yang terkoneksi
langsung dengan sebuah perangkat router.
· Point-to-Multipoint
Media
jenis ini adalah media yang memiliki satu interface yang menghubungkannya
dengan banyak tujuan. Pada jaringan jenis ini, traffic OSPF juga dikirimkan
menggunakan alamat IP multicast.
· Nonbroadcast Multiaccess (NBMA)
Media
berjenis Nonbroadcast multi-access ini secara fisik merupakan sebuah serial
line biasa yang sering ditemui pada media jenis Point-to-Point. Namun secara
faktanya, media ini dapat menyediakan koneksi ke banyak tujuan, tidak hanya ke
satu titik saja.
BAB
II
PANDUAN ALGORITMA
ROUTING
2.1. Routing
Routing merupakan proses dimana sesuatu dibawa dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Contoh riil sesuatu yang membutuhkan perutean adalah surat, panggilan telepon, perjalanan kereta api, dan lain sebagainya. Pada suatu jaringan router adalah perangkat yang digunakan untuk merutekan trafik jaringan.
Untuk
dapat melakukan perutean, suatu router, atau entitas apapun yang membangun routing,
melakukan beberapa langkah berikut ini:
· Mengetahui
Alamat tujuan – Ke tujuan (alamat) mana sesuatu yang dirutekan dikirim?
· Mengenali
sumber-sumber informasi perutean – Dari sumber-sumber (router-router lain) mana
saja suatu router dapat mempelajari jalur-jalur menuju tujuan?
· Menemukan
rute-rute – Jalur-jalur atau rute-rute mana saja yang mungkin dapat dilalui
untuk mencapai alamat tujuan?
· Memilih
jalur atau rute – Memilih jalur atau rute terbaik untuk menuju alamat tujuan
yang dimaksud.
· Memelihara
dan memverifikasi informasi routing – Apakah jalur-jalur ke tujuan yang telah diketahui
masih berlaku dan benar?
Pada
suatu sistem jaringan komputer, router mempelajari informasi routing dari
sumber-sumber routing-nya yang terletak di dalam tabel routing (routing
table). Router akan berpedoman pada tabel ini untuk menyatakan port mana
yang digunakan mem-forward paket-paket yang ditujukan kepadanya.
· Jika jaringan tujuan terhubung langsung dengan router,
maka router sudah mengetahui port mana yang digunakan untuk mem-forward paket.
· Jika jaringan tujuan tidak terhubung langsung dengan
router, maka router harus mempelajari rute terbaik untuk mem-forward paket ke
tujuan.
2.2. Static Routing dan Dynamic
Routing
Secara
umum mekanisme koordinasi routing dapat dipelajari oleh router dalam dua metode, yaitu:
• Dimasukkan
secara manual oleh administrator jaringan, disebut Static Routes.
• Dikumpulkan melalui proses-proses dinamis yang
berjalan di jaringan, disebut sebagai Dynamic
Routes.
2.2.1.
Static Routing
Routing
statik (static route) adalah pengaturan routing paling sederhana yang
dapat dilakukan pada jaringan komputer. Static
route adalah rute-rute ke host atau jaringan tujuan yang dimasukkan secara manual oleh
administrator jaringan ke route table suatu router. Static route mendefinisikan alamat IP hop
router berikutnya dan interface lokal yang digunakan untuk mem-forward paket
ke tujuan tertentu (hop router berikutnya).
Static route memiliki
keunggulan untuk menghemat bandwidth jaringan karena static route tidak membangkitkan
trafik route update untuk memberikan informasi perubahan rute yang berlaku (sah)
saat ini ke router-router lain. Penggunaan routing statik dalam sebuah jaringan yang kecil tentu
bukanlah suatu masalah, hanya beberapa entri yang perlu diisikan
pada forwarding table di setiap router.
pada forwarding table di setiap router.
Namun
tentu dapat dibayangkan bagaimana jika harus melengkapi forwarding table di setiap router yang jumlahnya tidak
sedikit dalam jaringan yang besar. Apalagi jika untuk mengisi entri-entri di
seluruh router di Internet yang jumlahnya banyak sekali dan terus
bertambah setiap hari. Jadi penggunaan static route cenderung
membutuhkan waktu ekstra ketika memanajemen jaringan. Hal ini disebabkan karena sistem administrator
harus secara manual meng-update route table setiap
terjadi perubahan konfigurasi jaringan.
–
dengan menggunakan next hop
(+) dapat mencegah trjadinya eror dalam meneruskan paket ke router tujuan apabila router yang akan meneruskan paket memiliki link yang terhubung dengan banyak router.itu disebabkan karena router telah mengetahui next hop, yaitu ip address router tujuan
(+) dapat mencegah trjadinya eror dalam meneruskan paket ke router tujuan apabila router yang akan meneruskan paket memiliki link yang terhubung dengan banyak router.itu disebabkan karena router telah mengetahui next hop, yaitu ip address router tujuan
(–) static
routing yang menggunakan next hop akan mengalami multiple lookup atau lookup yg
berulang. lookup yg pertama yang
akan dilakukan adalah mencari network tujuan,setelah itu akan kembali melakukan proses
lookup untuk mencari interface mana yang digunakan untuk menjangkau next hopnya.
– dengan menggunakan exit interface
(+) proses
lookup hanya akan terjadi satu kali saja ( single lookup ) karena router akan
langsung meneruskan paket ke network tujuan
melalui interface yang sesuai pada routing tabel
(–) kemungkinan akan terjadi eror keteka
meneruskan paket. jika link router terhubung dengan banyak router, maka router tidak
bisa memutuskan router mana tujuanya karena tidak adanya next hop pada tabel routing.
karena itulah, akan terjadi eror.
Routing static dengan menggunakan next hop cocok digunakan untuk jaringan multi access network atau point to multipoint sedangkan untuk jaringan point to point, cocok dengan menggunakan exit interface dalam mengkonfigurasi static route.
Recursive
route lookup adalah proses yang terjadi pada routing tabel untuk menentukan exit interface mana
yang akan digunakan ketika akan meneruskan paket ke tujuannya.
2.2.2. Dynamic Routing
Routing
dinamik adalah cara yang digunakan untuk melepaskan kewajiban mengisi
entri-entri forwarding
table secara manual.
Protokol routing mengatur router-router sehingga dapat berkomunikasi satu
dengan yang lain dan saling memberikan informasi routing yang dapat mengubah
isi forwarding table, tergantung
keadaan jaringannya. Dengan cara ini, router-router mengetahui keadaan jaringan
yang terakhir dan mampu meneruskan datagram ke arah yang benar.
Routing dinamik yang popular saat
ini mengacu pada dua tipe algoritma yang dikenalkan oleh Bellman Ford dengan
algoritma distance vectornya dan oleh Djikstra dengan algoritma link
statenya. Cisco kemudian mengembangkan protocol untuk perangkat routernya
yang merupakan gabungan dari kedua algoritma tersebut yang diberi nama protocol
EIGRP.
Karakteristik pada dynamic routing:
§ informasi routingnya tidak lagi diberikan oleh orang (manual), melainkan diberikan oleh
software.
§ apabila salah satu jalur yang ada mengalami gangguan atau kerusakan peralatan, maka
router akan secara otomatis akan mencari ganti dari jaluryang tidak bisa dipakai lagi.
§ menangani jaringan yang lebih kompleks dan luas, atau jaringan yang konfigurasinya sering
berubah-ubah (koneksi putus-nyambung)
§ jaringannya cerdas (sudah menggunakan komputasi)
§ memerlukan routing protokol untuk membuat table routing dan routing protokol ini bisa
memakan sumber daya komputer.
§ informasi routingnya tidak lagi diberikan oleh orang (manual), melainkan diberikan oleh
software.
§ apabila salah satu jalur yang ada mengalami gangguan atau kerusakan peralatan, maka
router akan secara otomatis akan mencari ganti dari jaluryang tidak bisa dipakai lagi.
§ menangani jaringan yang lebih kompleks dan luas, atau jaringan yang konfigurasinya sering
berubah-ubah (koneksi putus-nyambung)
§ jaringannya cerdas (sudah menggunakan komputasi)
§ memerlukan routing protokol untuk membuat table routing dan routing protokol ini bisa
memakan sumber daya komputer.
2.2.2.1
Algoritma Distance Vector
Protokol distance vector bekerja dengan
memberikan router-router kemampuan untuk mempublikasikan semua rute-rute yang
diketahui (router bersangkutan) keluar ke seluruh interface yang dimilikinya.
Router
yang secara fisik berada pada jaringan yang sama dinamakan neighbor.
Jika router- router mempublikasikan rute-rute yang diketahuinya melalui seluruh
interface-nya, dan seluruh neighbor menerima routing update, maka setiap router akan juga mengetahui rute-rute yang dapat
dilalui ke seluruh subnet suatu jaringan.
Beberapa
hal berikut ini akan lebih mempermudah memahami konsep dasar distance
vector:
vector:
·
Router secara otomatis akan menambahkan subnet-subnet
yang terhubung langsung ke
dalam routing table tanpa menggunakan protokol routing.
dalam routing table tanpa menggunakan protokol routing.
·
Router mengirim routing update keluar ke
seluruh interface-nya untuk memberitahu rute-
rute yang telah diketahuinya.
rute yang telah diketahuinya.
·
Router “memperhatikan” routing update yang
berasal dari neighbor-nya, sehingga router
bersangkutan dapat mempelajari rute-rute baru.
bersangkutan dapat mempelajari rute-rute baru.
·
Informasi routing berupa nomor subnet dan suatu
metrik. Metrik mendefinisikan seberapa
baik rute bersangkutan. Semakin kecil nilai metrik,semakin baik rute tersebut.
baik rute bersangkutan. Semakin kecil nilai metrik,semakin baik rute tersebut.
·
Jika memungkinkan, router menggunakan broadcast dan
multicast untuk mengirim routing
update. Dengan menggunakan paket broadcast atau multicast, seluruh neighbor dalam
suatu LAN dapat menerima informasi routing yang sama untuk sekali update.
update. Dengan menggunakan paket broadcast atau multicast, seluruh neighbor dalam
suatu LAN dapat menerima informasi routing yang sama untuk sekali update.
·
Jika suatu router mempelajari multirute untuk subnet
yang sama, router akan memilih rute
terbaik berdasarkan nilai metriknya.
terbaik berdasarkan nilai metriknya.
·
Router mengirim update secara periodik dan menunggu
menerima update secara periodik
dari router-router neighbor.
dari router-router neighbor.
·
Kegagalan menerima update dari neighbor pada jangka
waktu tertentu akan menghasilkan
pencabutan router yang semula dipelajari dari neighbor.
pencabutan router yang semula dipelajari dari neighbor.
·
Router berasumsi bahwa rute yang diumumkan oleh suatu
router X, router next-hop dari
rutenya adalah router X tersebut.
rutenya adalah router X tersebut.
Beberapa
fitur Protokol Distance Vector :
a) Route Poisoning
a) Route Poisoning
Routing
loop dapat terjadi pada protokol distance
vector routing ketika router-router
memberitahukan bahwa suatu rute berubah dari kondisi valid ke tidak valid. Konvergensi
yang lambat akan mengakibatkan router neighbor terlambat mendapat pemberitahuan kondisi tersebut,
sehingga router neighbor tetap menganggap rute tersebut
valid (dengan hop 1). Ketika router neighbor mengirimkan pemberitahuan keluar ke seluruh
interfacenya, router pertama (yang memberitahukan kegagalan hubungan) akan mendapat informasi bahwa
hubungan yang tidak valid tersebut dapat dicapai dari router
neighbor dengan hop 2. Kedua router akan terus saling memberi
informasi rute yang salah tersebut disertai dengan menaikkan informasi hop-nya.
informasi rute yang salah tersebut disertai dengan menaikkan informasi hop-nya.
Dengan Route
poisoning, router tidak akan memberitahukan status tidak valid pada suatu rute
yang gagal. Tetapi akan tetap memberikan informasi keadaan rute yang gagal dengan status valid. Rute tersebut akan
diberi metrik yang sangat besar, sehingga router lain akan
menganggap rute tersebut sebagai rute yang tidak valid.
b) Split Horizon
b) Split Horizon
Fitur Route poisoning tidak
seluruhnya dapat mengatasi kondisi looping. Pada kasus di atas,
ketika suatu router memberitahukan suatu rute yang gagal dengan metrik yang sangat
besar, router neighbor kemungkinan tidak langsung mendapat pemberitahuan ini.
Jika router neighbor kemudian memberitahu rute yang tidak valid tersebut
ke router pertama (yang memberitahukan kegagalan hubungan) bahwa rute
tersebut dapat dicapai dari dirinya dengan metrik yang jauh lebih baik, maka kondisi di atas
dapat terjadi lagi.
Split horison mengatasi
masalah ini dengan memberikan aturan bahwa suatu router yang mendapat pemberitahuan update
informasi melalui interface x, tidak akan mengirimkan pemberitahuan yang sama ke interface x pula.
c) Split Horizon with Poison Reverse
Split horizon with poison reserve merupakan
varian dari split horizon. Pada kondisi stabil, router bekerja dengan fitur split
horizon. Tetapi ketika suatu rute gagal,router neighbor yang mendapat informasi ini
akan mengabaikan aturan split horizon, dan kemudian
mengirimkan kembali informasi tersebut ke router pertama dengan metrik yang sangat
besar pula. Metode ini dapat memastikan bahwa seluruh router mendapat informasi
yang benar mengenai kondisi rute tersebut.
d) Hold-Down Timer
Kondisi looping masih tetap
terjadi pada jaringan redundant (jaringan dengan lebih dari satu
jalur) walaupun fitur split horizon telah diaktifkan. Hal ini dimungkinkan
karena suatu router dalam jaringan dapat
memperoleh informasi mengenai rute yang sama melalui lebih
dari satu jalur dan router. Oleh karenanya ketika suatu rute diinformasikan tidak valid oleh router
bersangkutan, maka router neighbor pada saat yang sama juga mungkin mendapat
informasi dari router lain dengan metrik yang masih dapat dijangkau.
Informasi rute valid ini (poison) kemudian disampaikan ke router
pertama, sehingga kondisi looping akan terjadi.
pertama, sehingga kondisi looping akan terjadi.
Hold-Down Timer mengatasi
masalah ini dengan memberikan aturan bahwa ketika suatu router yang mendapat pemberitahuan suatu
rute tidak valid, router tersebut akan mengabaikan
informasi rute-rute alternatif ke subnet bersangkutan pada suatu waktu tertentu (hold-down timer).
e) Triggered (Flash) Updates
Protokol distance vektor biasanya
mengirimkan update secara regular berdasarkan interval
waktu tertentu. Oleh karenanya banyak masalah looping terjadi sesaat setelah suatu
rute tidak valid. Hal ini disebabkan karena beberapa router tidak segera mendapat
informasi ini. Beberapa router mengatasi masalah ini dengan menggunakan fitur triggered
update atau flash update, dimana router akan segera mengirim
pemberitahuan update baru sesaat setelah suatu rute tidak valid. Dengan demikian informasi perubahan status rute dapat segera
di-forward-kan secara lebih cepat, sehingga pengaktifan hold-down
timer di sisi router neighbor juga lebih cepat.
2.2.2.1.1 Routing Information Protocol
(RIP)
Routing protokol yang menggunakan algoritma distance
vector, yaitu algortima Bellman-Ford. Pertama kali dikenalkan pada tahun 1969
dan merupakan algoritma routing yang pertama pada ARPANET. Versi awal dari
routing protokol ini dibuat oleh Xerox Parc’s PARC Universal Packet
Internetworking dengan nama Gateway Internet Protocol. Kemudian diganti nama
menjadi Router Information Protocol (RIP) yang merupakan bagian Xerox network
Services.
RIP yang merupakan routing protokol dengan algoritma
distance vector, yang menghitung jumlah hop (count hop) sebagai routing metric.
Jumlah maksimum dari hop yang diperbolehkan adalah 15 hop. Tiap RIP router
saling tukar informasi routing tiap 30 detik, melalui UDP port 520. Untuk
menghindari loop routing, digunakan teknik split horizon with poison reverse.
RIP merupakan routing protocol yang paling mudah untuk di konfigurasi.
RIP memiliki 3 versi yaitu :
1. RIPv1
2. RIPv2
3. RIPng
Kelebihan
·
Menggunakan
metode Triggered Update
·
RIP memiliki
timer untuk mengetahui kapan router harus kembali memberikan
informasi routing.
informasi routing.
·
Jika terjadi
perubahan pada jaringan, sementara timer belum habis, router tetap harus
mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan tersebut (triggered
update).
mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan tersebut (triggered
update).
·
Mengatur
routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang cukup
dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link jaringan
dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link jaringan
Kekurangan
·
Jumlah host
Terbatas
·
RIP tidak
memiliki informasi tentang subnet setiap route.
·
RIP tidak
mendukung Variable Length Subnet Masking (VLSM).
·
Ketika
pertama kali dijalankan hanya mengetahui cara routing ke dirinya
sendiri (informasi lokal) dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya
berada.
sendiri (informasi lokal) dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya
berada.
1. RIP Versi 1
· Dokumen –> RFC1058.
· RIP V1 routing
vektor-jarak yang dimodifikasi dengan triggered update dan split
horizon dengan poisonous reverse untuk meningkatkan kinerjanya.
horizon dengan poisonous reverse untuk meningkatkan kinerjanya.
· RIP V1 diperlukan
supaya host dan router dapat bertukar informasi
untukmenghitung rute dalam jaringan TCP/IP.
untukmenghitung rute dalam jaringan TCP/IP.
· Informasi yang
dipertukarkan RIP berupa :
a.
Host
b.
Network
c.
Subnet
d.
Rutedefault
2. RIP Versi 2
·
Enhancement
dari RIP versi1 ditambah dengan beberapa kemampuan baru,
·
Algoritma
routing sama dengan RIP versi1,
·
Bedanya
terletak pada format dengan tambahan informasi yang dikirim,
·
Kemampuan
baru :
a.
Tag
–> untuk rute eksternal.
b.
Subnet
mask.
c.
Alamat
hop berikutnya.
d.
Autentikasi.
2.2.2.1.2. Interior Gateway Routing Protocol (IGRP)
IGRP (Interior Gateway Routing
Protocol) adalah juga protocol distance vector yang diciptakan oleh perusahaan
Cisco untuk mengatasi kekurangan RIP. Jumlah hop maksimum menjadi 255 dan
sebagai metric, IGRP menggunakan bandwidth, MTU, delay dan load. IGRP adalah
protocol routing yang menggunakan Autonomous System (AS) yang dapat menentukan
routing berdasarkan system, interior atau exterior. Administrative distance
untuk IGRP adalah 100.
Kelebihan
· support = 255 hop count
Kekurangan
· Jumlah Host terbatas
RIP (Routing Information
Protocol) dan IGRP (Interior Gateway RoutingProtocol) merupakan dua standar protokol routing berbasis distance
vector routing protocol. RIP dan IGRP memiliki banyak kesamaan secara logik.
Beberapa perbedaan penting dari kedua
protokol routing ini diperlihatkan pada tabel berikut ini:
IGRP Metric memberikan penghitungan
yang lebih baik mengenai seberapa baik rute-rute yang ada dibandingkan RIP metric. IGRP
metric dihitung menggunakan pengukuran bandwidth dan delay pada
interface dimana informasi update diterima. Hal ini akan memberikan arti yang
lebih baik dibandingkan metric berdasarkan hop count.
RIP
menggunakan penghitungan hop untuk besaran metriknya. Ketika informasi update
diterima, metrik dari setiap subnet dalam informasi update merupakan jumlah
router yang dilalui oleh informasi antara router penerima dengan setiap subnet.
Hal ini dapat dilakukan karena sebelum mengirim informasi update, router akan
menambah satu nilai metrinya untuk setiap subnet.
2.2.2.2 Algoritma Link State
Algoritma dasar kedua yang
digunakan dalam proses routing adalah algoritma link-state. Algoritma routing
link-state-based dikenal juga sebagai shortest path first (SPF).
Algoritma ini mengelola suatu database kompleks dari informasi topologi. Jika
algoritma distance vector tidak memiliki informasi spesifik mengenai jaringan-jaringan
jauh dan tidak mengetahui router-router jauh, maka algoritma routing
link-state mengelola secara penuh pengetahuan mengenai jarak router dan
bagaimana mereka terhubung.
Routing
link-state menggunakan link-state paket (LSP), suatu database
topologi, algoritma SPF, yang menghasilkan SPF tree, dan pada akhirnya
akan dihasilkan routing table dari jalur dan port untuk setiap
jaringan. Routing link-state memiliki keunggulan pada jaringan besar
karena beberapa alasan berikut:
· Protokol link-state
hanya mengirim update dari topologi yang berubah saja.
· Periode update
lebih jarang dibanding protokol distance vector.
· Routing link-state
dapat disegmentasi ke dalam hirarki-hirarki area yang dapat membatasi
jangkauan perubahan-perubahan rute.
jangkauan perubahan-perubahan rute.
· Mendukung
classless addressing.
· Routing link-state
mengirim subnet mask bersama dengan update routing.
Protokol routing link-state mengurangi
trafik broadcast karena protokol ini tidak secara periodik melakukan broadcast ataupun
mengirimkan seluruh isi table routing-nya ketika melakukan broadcast.
Protokol routing link-state melakukan pertukaran salinan lengkap tabel
rutenya ketika inisialisasi berlangsung. Selajutnya pertukaran update rutenya
dilakukan secara multicast dan hanya pada saat terjadi perubahan (dibangkitkan
oleh perubahan topologi). Dengan demikian kondisi ini memungkinkan hanya
perubahan saja yang dikirim ke router-router lain, bukan seluruh route table-nya.
Berbeda dengan protokol distance
vector, protokol link-state harus menghitung informasi metrik rute
yang diterimanya. Router akan menghitung seluruh cost yang berhubungan dengan link
pada setiap rute untuk mendapatkan metrik rute-rute yang terhubung. Hal ini
mengakibatkan router-router yang menggunakan protokol link-state bekerja
lebih berat dan memerlukan lebih banyak memory serta siklus pemrosessan.
Open
Shortest Path First (OSPF)
OSPF adalah protokol routing yang
diperuntukkan bagi jaringan IP dengan Interior Gateway Protocol (IGP)
oleh working group dari Internet Engineering Task Force (IETF).
OSP memiliki dua karakteristk utama, yaitu open standard dan berbasis pada
algoritma SPF yang kadangkala direferensikan dengan algoritma Dijkstra
(seseorang yang memiliki kontribusi pembuatan algoritma SPF).
Proses dasar pembelajaran rute-rute
OSPF untuk pertamakalinya umumnya:
· Setiap
router menemukan neighbor melalui setiap interface-nya. Daftar setiap neighbor
di simpan
dalam tabel neighbor.
dalam tabel neighbor.
· Setiap
router menggunakan protokol tertentu untuk bertukar informasi topologi (LSA)
dengan
neighbor-nya.
neighbor-nya.
· Setiap
router menyimpan informasi topologi yang dipelajarinya dalam database topologi.
· Setiap
router menjalankan algoritma SPF pada database topologinya untuk menghitung
rute-rute
terbaik dari setiap subnet di database.
terbaik dari setiap subnet di database.
· Setiap
router menyimpan rute-rute terbaik ke setiap subnet ke dalam table routing-nya
OSPF memiliki 3 table di dalam router :
1. Routing table
Routing table biasa juga disebut
sebagai Forwarding database. Database ini berisi the lowest cost untuk mencapai
router-router/network-network lainnya. Setiap router mempunyai Routing table
yang berbeda-beda.
2. Adjecency database
Database ini berisi semua router
tetangganya. Setiap router mempunyai Adjecency database yang berbeda-beda.
3. Topological database
Database ini berisi seluruh informasi
tentang router yang berada dalam satu networknya/areanya.
Kelebihan
·
tidak
menghasilkan routing loop
·
mendukung
penggunaan beberapa metrik sekaligus
·
dapat
menghasilkan banyak jalur ke sebuah tujuan
·
membagi
jaringan yang besar mejadi beberapa area.
·
waktu yang
diperlukan untuk konvergen lebih cepat
Kekurangan
·
Membutuhkan
basis data yang besar
·
Lebih rumit
Beberapa
fitur Protokol link state :
a. Steady-State Operation
Tidak seperti protokol distance
vector, protokol link-state menjaga hubungan
dengan neighbor melalui pengiriman paket-paket kecil
secara tak berkala dan jarang (kadang-kadang). OSPF menyebut paket kecil ini
dengan Hello packets. Hello packet secara sederhana mengidentifikasi subnet
dan keaktifan link serta router neighbor.
Ketika router gagal menerima paket
Hellos dari neighbor pada suatu interval
tertentu (dinamakan dead interval), router akan
mempercayai bahwa router bersangkutan mengalami kegagalan dan menandainya
dengan “down” pada database topologi-nya. Kemudian router berhenti menerima
paket Hello dan mulai menjalankan Dijkstra untuk menghitung kembali rute-rute
baru.
b. Loop Avoidance
Algoritma SPF mencegah loop yang
secara natural telah dilakukan bersamaan dengan pemrosessan database topologi,
sehingga tidak diperlukan fitur loop-avoidance seperti split
horizon, poison reserve, hold down timer, dan lain sebagainya.
c. Scalling OSPF Through
Hierarchical Design
Pada jaringan besar dengan ratusan router,
waktu konvergensi OSPF dapat melambat, dan membutuhkan banyak memory, serta
pembebanan prosessor.
Masalah ini dapat diringkas sebagai
berikut:
·
Pada topologi database yang besar dibutuhkan lebih
banyak memory dalam setiap router.
·
Pemrosessan database topologi yang besar dengan
algoritma SPF membutuhkan daya
pemrosesan yang bertambah secara eksponensial sebanding dengan ukuran database topologi.
pemrosesan yang bertambah secara eksponensial sebanding dengan ukuran database topologi.
·
Satu perubahan status interface (up ke down atau down
ke up) memaksa setiap router untuk
menjalankan SPF lagi.
menjalankan SPF lagi.
Meskipun demikian, tidak ada definisi
yang tepat untuk mendeskripsikan “jaringan besar”. Sebagai patokan (sangat
umum, bergantung pada desain, model, router, dan lain-lain), untuk jaringan dengan paling
sedikit 50 router dan 100 subnet, fitur OSPF scalability seharusnya
digunakan untuk mengurangi problem di atas.
d. OSPF Area
Penggunaan OSPF area dapat memecahkan
banyak (tidak semuanya) permasalahan mendasar ketika menjalankan OSPF pada
jaringan besar. OSPF area memecah-mecah jaringan sehingga router dalam satu area
lebih sedikit mengetahui informasi topologi mengenai subnet pada area lainnya.
Dengan database topologi yang lebih kecil, router akan mengkonsumsi memory dan
proses yang lebih sedikit.
OSPF menggunakan istilah Area
Border Router (ABR) untuk mendeskripsikan suatu router yang berada diantara
dua area (perbatasan). Suatu ABR memiliki database topologi untuk kedua area
tersebut dan menjalankan SPF ketika status link berubah pada salah satu
area. Penggunaan area tidak selamanya mengurangi
kebutuhan memory dan sejumlah penghitungan SPF untuk router ABR.
e. Stub Area
OSPF mengijinkan pendefinisian suatu
area sebagai stub area, sehingga dapat mengurangi ukuran database topologi.
OSPF juga mengijinkan varian area lain yang dapat mengurangi ukuran database
topologi, dimana juga akan mempercepat pemrosessan algoritma SPF. Tipe area
terbaru saat ini adalah Totally Not-So-Stubby Area (TNSSA).
2.2.2.3.
Balanced Hybrid Routing Protocol
Cisco
menggunakan istilah balanced hybrid untuk mendeskripsikan protokol routing yang dipakai oleh EIGRP (enhanced IGRP).
Hal ini dikarenakan EIGRP memiliki beberapa fitur seperti protokol distance
vector dan protokol link-state.
Enchanced Interior Gatway Routing Protocil (EIGRP)
EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
adalah routing protocol yang hanya di adopsi oleh router cisco atau sering
disebut sebagai proprietary protocol pada cisco. Dimana EIGRP ini hanya bisa
digunakan sesama router cisco saja. Bgmn bila router cisco digunakan dengan
router lain spt Juniper, Hwawei, dll menggunakan EIGRP??? Seperti saya bilang
diatas, EIGRP hanya bisa digunakan sesama router cisco saja. EIGRP ini sangat
cocok digunakan utk midsize dan large company. Karena banyak
sekali fasilitas2 yang diberikan pada protocol ini.
Kelebihan
· melakukan konvergensi secara tepat ketika menghindari
loop.
· memerlukan lebih sedikit memori dan proses
· memerlukan fitur loopavoidance
Kekurangan
· Hanya untuk Router Cisco
EIGRP menggunakan formula berbasis
bandwidth dan delay untuk menghitung metrik yang bersesuaian dengan suatu rute.
Formula ini mirip dengan yang digunakan oleh IGRP, tetapi jumlahnya dikalikan
dengan 256 untuk mengakomodasi perhitungan ketika nilai bandwidth yang
digunakan sangat tinggi.
EIGRP melakukan konvergensi secara
cepat ketika menghindari loop. EIGRP tidak melakukan perhitungan-perhitungan
rute seperti yang dilakukan oleh protokol link-state. Hal ini menjadikan
EIGRP tidak membutuhkan desain eksta, sehingga hanya memerlukan lebih sedikit
memory dan proses dibandingkan protokol link-state.
Konvergensi EIGRP lebih cepat
dibandingkan dengan protokol distance
vector. Hal ini
terutama disebabkan karena EIGRP tidak memerlukan fitur loopavoidance yang
pada kenyataannya menyebabkan konvergensi protokol distance vector melambat.
Hanya dengan mengirim sebagian dari routing update (setelah seluruh
informasi routing dipertukarkan), EIGRP mengurangi pembebanan di jaringan.
Salah satu kelemahan utama EIGRP
adalah protokol ini Cisco-proprietary, sehingga jika
diterapkan pada jaringan multivendor diperlukan suatu fungsi yang disebut route
redistribution. Fungsi ini akan menangani proses pertukaran rute router
diantara dua protokol link-state (OSPF dan EIGRP).
BAB
III
KARAKTERISTIK
ALGORITMA ROUTING
3.
Ciri-ciri dan Pembagian Algoritma Routing
3.1.
Pembagian Algoritma Routing
Algoritma nonadaptive tidak
mendasarkan keputusan routing pada keadaan lalu lintas data dan topologi
jaringan saat ini. Pemilihan jalur komunikasi yang digunakan antarmesin pada
algoritma iniditentukan dari awal dan ditanamkan ke router pada saat jaringan
diaktifkan. Algoritma routing ini disebut juga static routing.
Algoritma
adaptive menentukan jalur komunikasi berdasar kondisi jaringan saat ini,
seperti topologi yang digunakan dan juga kondisilalu lintas data. Algoritma
adaptive (dynamic routing) memperoleh informasi untuk proses routing secara
lokal, dari router terdekat atau dari semua router yang ada dijaringan.
Dua hal yang penting yang menguntungkan dari adaptive routing adalah:
Dua hal yang penting yang menguntungkan dari adaptive routing adalah:
1.Strategi routing adaptif dapat
meningkatkan performance seperti apa yang keinginan user
2.Strategi
adaptif dapat membantu kendali lalulintas. Akan tetapi, strategi ini dapat menimbul-kan
beberapa akibat, misalnya :
beberapa akibat, misalnya :
·Proses pengambilan keputusan untuk
menetap-kan rute menjadi sangat rumit akibatnya beban pemrosesan pada jaringan
meningkat.
·Pada kebanyakan
kasus, strategi adaptif tergantung pada informasi status yang
dikumpulkan pada satu tempat tetapi
digunakan di tempat lain. Akibatnya beban lalu lintas meningkat.
· Strategi
adaptif bisa memunculkan masalah seperti kemacetan apabila
reaksi yang terjadi terlampau cepat, atau menjadi tidak relevan apabila
reaksi sangat lambat.
Kategori Strategi Adaptif dapat dibagi menjadi :
- Isolated adaptive :
informasi lokal, kendali ter-distribusi.
- Adaptive : informasi dari
node yang berdekatan, kendali terdistribusi.
- Adaptive : informasi dari
seluruh node, kendali terpusat.
3.2.
Metode Algoritma Routing
o Forward Search Algrithm
Forward search algorithm
dinyatakan sebagai menentukan jarak terpendek dari node awal yang ditentukan ke
setiap node yang ada. Algoritma diungkapkan dalam stage. Dengan k buah stage,
jalur terpendek node k terhadap node sumber ditentukan. Node-node ini ada dalam
himpunan N. pada stage ke ( k+1 ), node yang tidak ada dalam M yang mempunyai
jarak terpendek terhadap sumber ditambahkan ke M. sebagai sebuah node yang
ditambahkan dalam M, maka jalur dari sumber menjadi terdefinisi
o Backward Search Algortihm
Menentukan biaya terkecil yang
diberikan node tujuan dari semua node yang ada. Algoritma ini juga diproses
tiap stage. Pada setiap stage, algoritma menunjuk masing-masing node. Definisi yang digunakan :
N = himpunan node yang terdapat pada jaringan. D = node tujuan I ( i,j ) =
seperti keterangan di atas. C2 ( n ) = biaya dari jalur biaya terkecil dari n
ke D yang dihasilkan ketika algortma dikerjakan.
3.3. Backtracking
3.3.1 Definisi
Backtracking adalah
algoritma yang berbasis pada algoritma DFS (Depth-First Search) yang
dapat mencari solusi sebuah persoalan dengan lebih mangkus. Algoritma ini dapat
menemukan solusi sebuah persoalan tanpa perlu memeriksa semua kemungkinan
solusi dan hanya mempertimbangkan pencarian yang mengarah kesolusi. Algoritma
Backtracking merupakan algoritma yang berbasiskan DFS (Depth First Search).
Yang dilakukan oleh algoritma ini adalah mencari kemungkinan solusi dengan
menelusuri hingga node terdalam. Kemudian dilakukan perjalanan kembali dengan
melalui node-node calon solusi yang telah dikunjungi untuk menemukan jalur
solusi lain yang lebih sesuai. Dengan kata lain, algoritma ini akan melakukan pencarian
solusi secara berurutan dari jalur solusi satu ke jalur solusi lain. Namun akan
berhenti bila solusi yang sesuai telah ditemukan.
3.3.2 Prinsip Kerja
Backtracking
menggunakan prinsip DFS untuk mencari sebuah solusi
persoalan. Ruang solusi diorganisasikan dalam struktur pohon dengan simpul
pohon menyatakan status persoalan.Algoritma backtracking mencari solusi
dengan menelusuri pohon dengan prinsip DFS. Di setiap simpul yang dikunjungi,
algoritma akan mengecek apakah lintasan yang tercipta mengarah ke solusi
(memenuhi fungsi pembatas). Jika lintasan tidak mengarah ke solusi,simpul
tersebut akan ‘dibunuh’ dan menjadi simpul mati. Simpul mati ini tidak akan
diperluas lagi. Jika pembentukan lintasan berakhir dengan simpul mati, proses
pencarian akan membangkitkan simpul anak yang lain. Bila tidak ada lagi simpul
anak yang dapat dibangkitkan,pencarian solusi dilanjutkan dengan melakukan
runutbalik(backtrack) ke simpul hidup terdekat, yaitu orang tua. Simpul
ini akan menjadi expand-node yang baru.Pencarian akan berhenti bila
solusi sudah ditemukanatau tidak ada lagi simpul hidup untuk runut-balik.
Algoritma backtracking secara signifikan memperbaiki kompleksitas
algoritma yang dijumpai pada algoritma brute force. Jika jumlah simpul
dalam pohon ruang status adalah 2n atau n!, maka pada kasus terburuk, backtrackingmemerlukan
waktu O(p(n)2n) atau O(q(n)n!) dengan p(n)dan q(n) adalah polinom derajat n
yang menyatakan waktu komputasi setiap simpul [3]. Sama seperti algoritma Brute-Force,
prinsip dasar algoritma Backtracking adalah mencoba semua kemungkinan
solusi yang ada. Perbedaan utamanya adalah pada konsep dasarnya, yaitu pada Backtracking
semua solusi dibuat dalam bentuk pohon solusi (tree), dan kemudian
pohon tersebut dan ditelusuri secara DFS (Depth First Search) sehingga
ditemukan solusi terbaik yang diinginkan.
Contohnya :
Misalkan pohon di atas
menggambarkan solusi dari suatu persoalan. Jika kita ingin mencari solusi dari
A ke E, maka jalur yang harus ditempuh adalah (A-B-E). Demikian juga untuk
solusi-solusi yang lain. Algoritma Backtracking akan memeriksa jalur
secara DFS, yaitu dari solusi terdalam pertama yang ditemui yaitu solusi E.
Jika ternyata E bukanlah solusi yang diharapkan, maka pencarian akan
dilanjutkan ke F. Jalur yang harus dilalui untuk bisa mencapai E adalah (A-B-E)
dan untuk mencapai F adalah (A-B-F). Kedua solusi tersebut memiliki jalur awal
yang sama, yaitu (A-B). Jadi, daripada memeriksa ulang jalur dari A kemudian B,
maka jalur (A-B) disimpan dulu dan langsung memeriksa solusi F. Untuk kasus
pohon yang lebih rumit, cara ini dianggap lebih efisien daripada jika
menggunakan algoritma Brute-Force.
3.3.3 Analisis Penerapan Algoritma Backtracking
Algoritma routing yang berdasar
pada teknik pencarian graf telah terbukti memberikan fleksibilitas yang paling
baik Jika digunakan metode exhaustive traversal, paket data dikirim
melalui semua node yang dapat dikunjungisampai node tujuan
ditemukan. Dengan metode ini, sebuah node pada jaringan dapat dikunjungi
lebih darisatu kali, sehingga dapat menghasilkan beban yang tidakperlu bagi
jaringan. Pendekatan yang dilakukan untuk mencegah redundansikunjungan paket
data ke sebuah node adalah dengan menyimpan informasi status pada header
pesan yang dikirim. Misalkan sebuah paket mempunyai struktur (R, TD,message).
R adalah vektor n-bit yang berfungsi sebagairouting tag. Jika
bit i pada R terdefinisi, maka paket data harus melalui dimensi i. Jika R = 0, maka
paket data telahmencapai tujuan. TD
adalah himpunan dimensi yang
telahdilalui oleh paket data. Pada host
sumber, TD diinisialisasi dengan nilai 0. Selama perjalanan, setiap
melalui nodeantara sumber dan tujuan, nilai R dan TD diperbaharui.
Proses routing pada titik-titik antara (intermediate node)melalui
beberapa tahap. Tahap pertama adalahmentransmisikan paket data melalui jalur
terpendek (shortest path) ke node tujuan. Jika jalur tertutup
oleh komponen (node / host) yang cacat, maka himpunan dimensi
yang pernah dilalui oleh paket data sampai saatini dapat digunakan untuk
menghitung alamat semua nodeyang pernah dilalui oleh paket data ini.
Awalnya, paket data akan melalui
dimensi 0 untukmencapai node 0011, kemudian melalui dimensi 1
untukmencapai node 0001. Kerusakan pada
jalur komunikasi yang seharusnya dipilih, yaitu jalur dari 0001 ke 0101 dandari
0001 ke 1001 menyebabkan paket data terkirim kenode 0000. Di node 0000, kerusakan
terdeteksi pada dua jalur komunikasi. Daftar dimensi yang telah dilalui
olehpaket data tersimpan pada header paket. Daftar ini dapatdigunakan untuk
menyusun ulang semua node yang telah dilalui paket data. Dari informasi
ini, node 0000 dapatmenentukan bahwa node 0010 pernah dilalui
oleh paketdata. Hal ini
menyebabkan node 0000 untuk melalukan backtrack dengan mengirim ulang paket data ke node0001.
Di node 0001, semua kemungkinan jalur telahdiperiksa sehingga
menyebabkan paket data backtrack kenode 0011 dengan isi
pesan (1110, [0, 1, 0, 0, 1],message). Algoritma routing pada node0011
akan memilih dimensi terkecil untuk melakukan pergerakanmenuju node tujuan,
yaitu node 2, sehingga paket yangdikirim ke node 0111 berisi
(1010, [0, 1, 0, 0, 1, 2],message). Node 0111 akan memilih
dimensi 1 danmengirim pesan (1000, [0, 1, 0, 0, 1, 2,1], message) kenode
0101. Node 0101 kemudian mengirim paket data kenode
1101 yang merupakan node tujuan.
Setelah semua
di tuliskan maka, akan mendapatkan suatu data yang telah dicarikan pada dimensi
0 yang mencapai node yang di cari . lalu setelah dapat hasil nya maka code pada
program yang telah ditentukan ada di dalam program deklarasi Algoritma yang
dimana seuai dengan kararekteristik yang di inginkan yang ada pada di bawah
ini.
Contoh Deklarasi
j, n, h : integer
Algoritma:
if R = 0 then node tujuan sudah tercapai
for j := 0 to n – 1 and not b do begin
I if notVisited(getNode(rj)) then
kirim (R ⊕ ei, TD&j, message ) melalui
dimensi j.
stop()
endif
endfor
if notFault(min(R)) and notVisited(getNode(min(R)))
then
begin
kirim (R ⊕ eh,
TD&h, message ) melalui dimensi h.
stop()
endif
if node saat ini memperoleh paket dari node dengan
dimensi g then begin
kirim ulang (R ⊕ eg, TD&g, message ) ke node
sebelumnya {backtrack ke node sebelumnya}
endif
3.3.4 Penggunaan Backtracking
Algoritma Backtracking digunakan
untuk membuat Artificial Intelligence pada board games seperti
catur, othello, dan checker. Dengan algoritma ini dapat dibuat pohon solusi
sampai dengan kedalaman tertentu dari current status, dan dipilih solusi yang
dapat membantu user menemukan langkah-langkah yang nantinya akan menghasilkan
pohon solusi yang menguntungkan bagi user. Cara ini dipakai sebagai Artificial
Intelligence yang digunakan untuk menyelesaikan dynamic problem.
Beberapa contoh penggunaan dari algoritma Backtrack dari suatu masalah
statik adalah untuk memecahkan masalah N-Queen problem dan Maze
Solver.
N-Queen problem adalah permasalahan di mana user harus mencari
cara bagaimana meletakkan bidak Queen catur sebanyak n buah pada papan
catur atau pada papan berukuran nxn sedemikian rupa sehingga tidak ada satu
bidakpun yang dapat memakan bidak lainnya hanya dengan 1 langkah (1 gerakan).
Meskipun ada kemungkinan terdapat lebih dari satu cara untuk mendapatkan
solusinya, tetapi tidak perlu dilakukan proses pencarian untuk mendapatkan
semua solusinya. Untuk beberapa kasus tertentu perlu dilakukan pencarian
terhadap semua solusi sehingga dapat dipilih satu solusi terbaik.
Maze solver adalah permasalahan di mana user harus mencari
cara agar bisa keluar dari suatu maze (labirin). Pada maze sederhana
di mana field yang dibentuk dapat direpresentasikan dalam bentuk biner
dan pada setiap petak terdapat maksimal 4 kemungkinan : atas, kiri, bawah, dan
kanan. Untuk masalah ini biasanya solusi pertama yang ditemukan bukanlah solusi
optimal seperti yang diharapkan, sehingga harus dilakukan pencarian terhadap
semua kemungkinan solusi agar didapatkan solusi terbaik.
3.3.5 Kegunaan Backtracking
v Algoritma Backtracking sangat
berguna untuk mencari jumlah solusi jalur kombinasi yang diperlukan untuk
mendapatkan solusi optimal.
v Algoritma Backtracking juga
mudah diimplementasikan dengan bahasa pemrograman yang mendukung pemanggilan
fungsi/prosedur rekursif.
v Untuk persoalan yang memiliki
kemungkinan solusi yang kompleks seperti permainan catur, sebaiknya kedalaman
pohon dibatasi sehingga tidak memakan waktu yang lama.
v Untuk alokasi memori yang akan dipakai
untuk menyimpan langkah-langkah penyelesaian sebaiknya menggunakan dynamic
array, karena sebagian besar program yang menggunakan algoritma ini
menghasilkan solusi yang tidak dapat diprediksi.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Jadi, kesimpulannya dari
Algoritma Routinga adalah bahwa :
· Untuk jaringan
berskala kecil algoritma routing yang sesuai adalah routing secara statik
karena lebih menghemat bandwidth sedangkan untuk jaringan berskala besar lebih
tepat menggunakan dynamic
routing.
· Protokol RIP
banyak digunakan karena kesederhanaan dalam mengimplementasikannya.
·Algoritma link state lebih baik dibandingkan algoritma distance vector dilihat dari sisi waktu konvergensi dan tidak adanya routing loop di dalam jaringan.
·Algoritma EIGRP
yang dikembangkan Cisco sudah menggabungkan kelebihan dari algoritma link state dan algoritma distance
vector, tetapi
teknologi ini tidak banyak didukung oleh vendor router yang lain (Cisco proprietary).
B. Saran
Jika kita ingin membuat skala Algoritma Routing yang besar, maka kita harus memakai atau menggunakan dynamic routing yang berukuran skala besar yang dimana bisa menampung banyak nya yang dikelolah. Serta dalam Algoritma nya lebih baik kita menggunakan Algoritma Link State yang nilai lebih nya dalam sisi waktu yang konvergensi dan tidak adanya routing loop di dalam jaringan yang sedang berjalan.
B. Saran
Jika kita ingin membuat skala Algoritma Routing yang besar, maka kita harus memakai atau menggunakan dynamic routing yang berukuran skala besar yang dimana bisa menampung banyak nya yang dikelolah. Serta dalam Algoritma nya lebih baik kita menggunakan Algoritma Link State yang nilai lebih nya dalam sisi waktu yang konvergensi dan tidak adanya routing loop di dalam jaringan yang sedang berjalan.
C. Pertanyaan dan Jawaban
A.
Pertanyaan
1. Apa yang
dimaksud dengan Algoritma?
2. Apa yang
dimaksud dengan Routing?
3. Bagaimana
cara kerja Algoritma Routing ?
4. Apa yang
dimaksud dengan Algoritma Routing?
5. Sebutkan langkah-langkah
membangun routing?
6. Sebutkan kekurangan dan kelebihan static
routing dengan menggunakan next hop?
7.
Sebutkan kekurangan
dan kelebihan static routing dengan menggunakan exit interface?
8.
Sebutkan Karakteristik dynamic routing?
9.
Sebutkan Kelebihan dan Kekurangan Routing
Information Protocol (RIP) ?
10.
Sebutkan Keunggulan Routing link-state?
B.
Jawaban
1.
Algoritma
merupakan suatu pondasi yang harus dikuasai oleh setiap mahasiswa yang ingin
menyelesaikan suatu masalah secara berstruktur, efektif, dan efisiensi,
teristimewa lagi bagi mahasiswa yang ingin menyusun program computer untuk
menyelesaikan suatu persoalan.
2. Routing adalah inti dari semua kontrol jaringan, yaitu mekanisme yang digunakan untuk mengirimkan paket serta mengarahkan dan menentukan jalur yang akan dilewati paket dari satu jaringan ke jaringan yang lain.
3. Algoritma routing digunakan untuk membangun dan mengatur table routing pada perangkat. Terdapat 2 cara untuk membangun table routing, yaitu :
Static
Routing : routing ini dibangun berdasarkan definisi dari adminstrator.
Dynamic
Routing : algoritma ini dapat membuat perangkat router untuk dapat
menentukan jalur routingnya secara otomatis, dengan cara menjelajah jaringan
tersebut dan bertukar informari routing antar router. Terdapat 3 kategori tentang
algoritma dinamik, yaitu : oDistance Vector
menentukan jalur routingnya secara otomatis, dengan cara menjelajah jaringan
tersebut dan bertukar informari routing antar router. Terdapat 3 kategori tentang
algoritma dinamik, yaitu : oDistance Vector
oLink
State
oHybrid
4.
Algoritma
routing
adalah bagian algoritma dari perangkat lunak network layer yang bertanggung
jawab untuk menentukan jalur mana yang menjadi jalur transmisi paket.
5. Untuk dapat melakukan perutean, suatu router, atau entitas apapun yang membangun routing, melakukan beberapa langkah berikut ini:
· Mengetahui
Alamat tujuan – Ke tujuan (alamat) mana sesuatu yang dirutekan dikirim?
· Mengenali
sumber-sumber informasi perutean – Dari sumber-sumber (router-router lain) mana
saja suatu router dapat mempelajari jalur-jalur menuju tujuan?
· Menemukan
rute-rute – Jalur-jalur atau rute-rute mana saja yang mungkin dapat
dilalui untuk mencapai alamat tujuan?
dilalui untuk mencapai alamat tujuan?
· Memilih
jalur atau rute – Memilih jalur atau rute terbaik untuk menuju alamat tujuan
yang dimaksud.
· Memelihara
dan memverifikasi informasi routing – Apakah jalur-jalur ke tujuan yang telah
diketahui masih berlaku dan benar?
6.
kekurangan
dan kelebihan static routing:
– dengan menggunakan next hop
(+) dapat mencegah
trjadinya eror dalam meneruskan paket ke router tujuan apabila
routeryang akan meneruskan paket memiliki link yang terhubung dengan banyak
router.itu disebabkan karena router telah mengetahui next hop, yaitu ip address
router tujuan
routeryang akan meneruskan paket memiliki link yang terhubung dengan banyak
router.itu disebabkan karena router telah mengetahui next hop, yaitu ip address
router tujuan
(–) static routing yang menggunakan
next hop akan mengalami multiple lookup atau
lookup yg berulang. lookup yg pertama yang akan dilakukan adalah mencari
network tujuan,setelah itu akan kembali melakukan proses lookup untuk mencari
interface mana yang digunakan untuk menjangkau next hopnya.
lookup yg berulang. lookup yg pertama yang akan dilakukan adalah mencari
network tujuan,setelah itu akan kembali melakukan proses lookup untuk mencari
interface mana yang digunakan untuk menjangkau next hopnya.
7. kekurangan dan kelebihan static routing: – dengan menggunakan exit interface
(+ ) proses lookup hanya akan terjadi satu kali saja ( single lookup ) karena router akan langsung meneruskan paket ke network tujuan melalui interface yang sesuai pada routing table
(–) kemungkinan akan terjadi eror keteka meneruskan paket. jika link router terhubung dengan banyak router, maka router tidak bisa memutuskan router mana tujuanya karena tidak adany next hop pada tabel routing. karena itulah, akan terjadi eror.
8. Karakteristik pada dynamic routing:
§ informasi routingnya tidak lagi diberikan oleh orang (manual), melainkan
diberikan oleh software.
§ apabila salah satu jalur yang ada mengalami gangguan atau kerusakan
peralatan, maka router akan secara otomatis akan mencari ganti dari jaluryang
tidak bisa dipakai lagi.
§ menangani jaringan yang lebih kompleks dan luas, atau jaringan yang
konfigurasinya sering berubah-ubah (koneksi putus-nyambung)
§ jaringannya cerdas (sudah menggunakan komputasi)
§ memerlukan routing protokol untuk membuat table routing dan routing
protokol ini bisa memakan sumber daya komputer.
§ informasi routingnya tidak lagi diberikan oleh orang (manual), melainkan
diberikan oleh software.
§ apabila salah satu jalur yang ada mengalami gangguan atau kerusakan
peralatan, maka router akan secara otomatis akan mencari ganti dari jaluryang
tidak bisa dipakai lagi.
§ menangani jaringan yang lebih kompleks dan luas, atau jaringan yang
konfigurasinya sering berubah-ubah (koneksi putus-nyambung)
§ jaringannya cerdas (sudah menggunakan komputasi)
§ memerlukan routing protokol untuk membuat table routing dan routing
protokol ini bisa memakan sumber daya komputer.
9. Kelebihan
·
Menggunakan
metode Triggered Update
·
RIP memiliki
timer untuk mengetahui kapan router harus kembali memberikan
informasi routing.
informasi routing.
·
Jika terjadi
perubahan pada jaringan, sementara timer belum habis, router tetap
harus mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan tersebut
(triggered update).
harus mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan tersebut
(triggered update).
·
Mengatur
routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang
cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link jaringan
cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link jaringan
Kekurangan
·
Jumlah host
Terbatas
·
RIP tidak
memiliki informasi tentang subnet setiap route.
·
RIP tidak
mendukung Variable Length Subnet Masking (VLSM).
·
Ketika
pertama kali dijalankan hanya mengetahui cara routing ke dirinya
sendiri (informasi lokal) dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya
berada.
sendiri (informasi lokal) dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya
berada.
10. Routing link-state memiliki keunggulan pada jaringan besar karena beberapa alasan berikut:
· Protokol link-state hanya mengirim update
dari topologi yang berubah
saja.
· Periode update
lebih jarang dibanding protokol distance vector.
· Routing link-state
dapat disegmentasi ke dalam hirarki-hirarki area yang
dapat membatasi jangkauan
perubahan-perubahan rute.
· Mendukung
classless addressing.
· Routing link-state
mengirim subnet mask bersama dengan update routing.
REFERENSI
Ketuta Gustini., Tipe IP Routing dan Algoritma IP
Routing,
cara kerja algoritma Routing digunakan pada halaman 1-2
Doro Edi, KAJIAN ALGORITMA ROUTING DALAM
JARINGAN KOMPUTER,
Kajian Algoritma Routing Dalam
Jaringan Komputer Halaman
47 sampai 54 di gunakan pada halaman 2- 12
Muhammad Zen Samsono Hadi, ST.
MSc.,PROTOKOL ROUTING
Halaman 9
digunakan pada halaman 3
Deenugraha, Routing
dan Protokol Routing,
Di gunakan pada halaman 3,7,8-10,dan 12
Di gunakan pada halaman 7 dan 8
Riga Latariga, Jaringan Dan Konsep Algoritma
Routing,
Di gunakan pada halaman 5
Biraman-dianto , Jaringan Komputer
Algoritma Routing
Digunakan pada halaman 14-19
Ginanjay, Kajian Algoritma Routing Dalam
Jaringan Komputer
Digunakan pada halaman 13







thanks gan sudah share
ReplyDeletealat cuci ultrasonic